Berita  

Banjir dan Longsor Lumpuhkan Jalur Nasional di Tapanuli Selatan

TAPANULI SELATAN — Ketika alam bergerak tanpa kompromi, dampaknya bisa terasa sampai ke nadi kehidupan masyarakat. Itulah yang kini terjadi di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel). Hujan deras yang terus mengguyur selama beberapa hari terakhir memicu banjir dan longsor besar di berbagai titik, membuat sejumlah ruas jalan nasional terputus total—dan masyarakat harus menghadapi kenyataan bahwa akses transportasi utama mereka kini lumpuh.

Dalam gaya obrolan santai tapi tetap lugas, seperti kalau kita lagi bahas sesuatu yang serius sambil minum kopi sore, mari kita telusuri apa yang sebenarnya terjadi di Tapsel.

Jalur Utama Putus Total: “Akses Lalu Lintas Benar-Benar Lumpuh”

Bayangkan bangun pagi dan mengetahui bahwa semua jalur utama yang biasanya ramai kini sepi, bukan karena libur atau demo, tapi karena tanah dan batu menutup jalan seolah menyuruh semua orang berhenti sejenak. Itulah kondisi yang digambarkan Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Tapanuli Selatan, Iptu James Sihombing.

Dalam keterangannya lewat sambungan telepon, James menyebut banjir dan longsor terjadi di banyak titik, dan parahnya, hampir semuanya berada di jalur nasional—ruas penting yang menghubungkan Tapsel dengan Tarutung, Tapanuli Utara, Mandailing Natal, hingga Kota Medan.

Ada beberapa titik lokasi longsor di ruas jalan nasional Kabupaten Tapsel. Arus lalu lintas lumpuh total dan belum bisa dilalui sampai sekarang,” ujar James, Rabu (26/11/2025).

Situasi ini bukan sekadar jalan tertutup. Ini adalah kondisi darurat yang membelah akses antarwilayah dan menyulitkan mobilitas warga, logistik, bahkan bantuan.

Longsor di Sipirok: Tiga Titik yang Jadi “Pengunci” Jalan Nasional

Kalau bicara tentang jalur penting, Sipirok adalah salah satu simpulnya. Daerah ini dikenal sebagai penghubung utama dari Tapanuli Selatan menuju Tarutung hingga Medan. Namun kini, jalur tersebut terpaksa berhenti bernafas sejenak.

Ada tiga titik longsor yang membuat semua kendaraan, baik roda dua hingga truk besar, tak bisa lewat:

  • Dusun Pengkolan, Desa Luat Lombang
  • Dusun Aek Latong, Desa Marsada
  • Dusun Purbatua, Desa Marsada

James menegaskan bahwa material longsor masih menumpuk dan proses pembersihannya belum selesai. “Tiga titik di Sipirok itu belum bisa dilalui sama sekali. Masih dalam proses pembersihan material.

Bukan hanya lumpur dan tanah, tapi juga material batu besar yang tergerus dari tebing akibat hujan deras selama berhari-hari.

Angkola Barat: Jalur Menuju Sibolga dan Tapanuli Tengah juga Terputus

Seolah belum cukup, longsor lain juga terjadi di Kecamatan Angkola Barat. Kalau Anda sering melintas dari Tapanuli Selatan menuju Tapanuli Tengah atau Kota Sibolga, jalur ini adalah “urat nadi” perjalanan. Namun kini, akses itu benar-benar terputus.

Ada tiga titik longsor yang melumpuhkan ruas jalan nasional di Angkola Barat:

  • Desa Aek Nabara
  • Tobotan
  • Tano Ponggol

James menyebut kondisi ini sebagai pemutusan total. Tidak ada celah untuk kendaraan lewat, bahkan motor pun tak bisa dipaksakan.

Akses jalan nasional di Angkola Barat putus total. Ada tiga titik longsor yang menutup seluruh badan jalan,” katanya.

Dengan terputusnya jalur ini, otomatis hubungan Tapsel dengan Sibolga, Tapteng, hingga Medan ikut terhambat.

Hujan yang Tak Henti-Henti: Pemicu Utama Longsor

Dalam beberapa hari terakhir, awan kelabu seperti enggan beranjak dari langit Tapanuli Selatan. Hujan deras turun hampir tanpa jeda, mengikis tebing-tebing tanah yang sebenarnya sudah rentan.

Curah hujan sangat tinggi. Tanah di tebing terkikis dan langsung memicu longsor,” kata James.

Dalam kondisi topografi seperti Tapsel, kombinasi hujan terus-menerus dan struktur tanah yang labil memang menjadi perpaduan berbahaya.

Longsor di Rianiate: Jalur ke Mandailing Natal Ikut Terputus

Ketika tim di lapangan melakukan pemantauan, longsor juga dilaporkan terjadi di Kelurahan Rianiate. Ini bukan jalur kecil—ini adalah bagian dari jalan nasional yang menghubungkan Tapanuli Selatan dengan Mandailing Natal lewat Muara Batang Gadis hingga Natal.

Jika jalur ini terputus, dampaknya terasa hingga ke masyarakat yang menggantungkan aktivitas ekonomi ke Mandailing Natal dan wilayah lain di sekitarnya.

Banjir Putuskan Jembatan: Batangtoru Tak Bisa Dilewati

Tanah longsor bukan satu-satunya masalah. Banjir besar juga memutus satu jembatan strategis di perbatasan Tapanuli Selatan–Tapanuli Tengah, tepatnya di Kecamatan Batangtoru.

Dengan jembatan terputus, akses menuju Tapanuli Tengah hingga Kota Sibolga otomatis tidak dapat dilalui. Ini memperburuk situasi karena jalur alternatif pun ikut terdampak.

Akses ke Panyabungan–Bukittinggi Ikut Lumpuh: Sungai Batang Angkola Meluap

Masalah berikutnya datang dari arah yang berbeda. Jalan nasional yang menghubungkan Tapanuli Selatan ke Panyabungan (Mandailing Natal) hingga Bukittinggi, Sumatera Barat juga lumpuh total akibat luapan Sungai Batang Angkola.

Lokasinya berada di Desa Aek Libung, dekat kawasan wisata Aek Sijornih—tempat yang biasanya ramai dikunjungi wisatawan, kini ikut diselimuti kekhawatiran karena air sungai meluber dan menutup badan jalan.

Cuaca Masih Ekstrem: Pembersihan Material Terhambat

James menambahkan bahwa, hingga saat ini, hujan deras masih terus turun, membuat proses pembersihan material longsor dan banjir jadi lebih sulit.

Cuaca masih hujan deras. Kami dari Polres Tapsel tetap berupaya melakukan evakuasi dan pembersihan material agar akses bisa segera dibuka kembali,” ucapnya.

Tim gabungan dari kepolisian, BPBD, dan beberapa instansi terkait masih berada di lapangan. Mereka bekerja di situasi yang jauh dari ideal—jalan licin, tanah gampang bergeser, dan aliran air masih kuat.

Dampak bagi Masyarakat: Aktivitas Terhenti, Jalur Ekonomi Terganggu

Dengan banyaknya jalur utama yang terputus, dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat:

  • Pengiriman logistik terhambat
  • Perjalanan antar kota lumpuh
  • Warga yang hendak bekerja atau berobat harus mencari jalur alternatif (yang sayangnya juga terdampak)
  • Aktivitas ekonomi di berbagai desa menurun tajam

Situasi ini membuat banyak warga berharap agar pembersihan material bisa segera selesai, meskipun cuaca kerap menjadi penghalang utama.

Penutup: Tapanuli Selatan dalam Masa Pemulihan

Banjir dan longsor kali ini bukan sekadar bencana kecil yang bisa selesai dalam sehari. Dampaknya terasa luas, mengganggu banyak aspek kehidupan warga di Tapanuli Selatan dan daerah sekitarnya.

Namun satu hal yang pasti: upaya pemulihan terus berjalan. Personel di lapangan masih bekerja tanpa henti. Warga pun berharap agar cuaca segera bersahabat sehingga jalan nasional yang menjadi denyut utama pergerakan masyarakat dapat kembali dibuka.

Tapsel sedang berjuang, dan kita berharap wilayah ini segera pulih dari cobaan alam yang datang bertubi-tubi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1766260801251