Berita  

KPK Telusuri Aset Hery Sudarmanto: Jejak Pemerasan TKA yang Menjerat Mantan Sekjen Kemnaker

KPK Telusuri Aset Hery Sudarmanto Jejak Pemerasan TKA yang Menjerat Mantan Sekjen Kemnaker
KPK Telusuri Aset Hery Sudarmanto Jejak Pemerasan TKA yang Menjerat Mantan Sekjen Kemnaker

Ketika Nama Besar Terseret Kasus Pemerasan: Awal Mula Pengusutan

Ada momen dalam sebuah kasus korupsi di mana publik tiba-tiba menoleh—bukan hanya karena angka kerugian yang besar, tetapi karena posisi seseorang yang terseret. Kasus pemerasan calon tenaga kerja asing (TKA) di Kementerian Ketenagakerjaan adalah salah satunya. Dalam pusaran itu, nama Hery Sudarmanto, mantan Sekretaris Jenderal Kemnaker, menjadi sorotan utama.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sedang melakukan penelusuran besar-besaran terhadap aset Hery. Langkah ini dilakukan setelah muncul dugaan bahwa ia turut menerima aliran dana dari praktik pemerasan yang, menurut penyidik, sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Di tengah derasnya sorotan publik, KPK melangkah dengan pola khas: tenang, sistematis, dan tanpa banyak retorika. Hery memang belum ditahan, belum bersuara, dan belum memberikan klarifikasi mengenai statusnya sebagai tersangka. Namun satu hal jelas: kasus ini terus bergerak maju, dan setiap geraknya mengungkap lapisan baru dari praktik yang diduga merugikan negara hingga puluhan miliar rupiah.

Pemeriksaan Istri Hery: Menyelami Jejak Aset Keluarga

Salah satu langkah awal KPK untuk menelusuri aliran dana adalah dengan memeriksa istri Hery, Ria Sudiyastuti, pada Senin (1/12). Langkah ini adalah prosedur standar ketika penegak hukum menduga adanya aset yang tidak sesuai profil atau ditemukan aliran keuangan yang mencurigakan.

Juru bicara KPK, Budi Prasetyo, mengatakan:

“Dalam pemeriksaan tersebut, penyidik mendalami pengetahuan saksi Saudari RS terkait dengan aset yang dimiliki oleh Hery Sudarmanto dan keluarganya.”

Bahasa yang digunakan Budi sederhana, tetapi maknanya dalam. Ketika penyidik mendalami ‘pengetahuan saksi’, itu berarti bukan hanya soal aset formal seperti rumah atau kendaraan. Bisa saja mencakup rekening bank, investasi, pembelian barang mewah, hingga transaksi yang tidak pernah dilaporkan.

Dalam konteks kasus korupsi, memeriksa pasangan pejabat bukan hal aneh. Banyak kasus besar terbongkar karena gaya hidup keluarga yang tidak sejalan dengan penghasilan resmi.

Dan di titik ini, arah penyidikan mulai membentuk gambaran: dugaan aliran dana pemerasan itu tidak hanya berhenti pada pihak yang melakukan pungutan, tetapi mengalir ke pihak-pihak lain yang berkaitan.

Pemeriksaan Petinggi PT Zam Zam Selomas Group: Mengurai Transaksi Keuangan

KPK tidak berhenti hanya pada lingkar keluarga. Penyidik juga memeriksa tiga petinggi PT Zam Zam Selomas Group:

  • Yudi Sugiarto

  • Sri Ribut Gestiani

  • Widagdo

Menurut Budi:

“Penyidik mendalami saksi YS, SRG, dan WID, mengenai transaksi keuangan dengan HS dan RS, serta keluarganya.”

Ini berarti penyidikan bergerak memasuki ranah hubungan bisnis. Jika ada transaksi yang melibatkan perusahaan, hal itu bisa menjadi indikasi aliran dana yang lebih kompleks—entah dalam bentuk pembayaran, titipan, atau skema lain yang digunakan untuk menyamarkan penerimaan.

Dalam banyak kasus korupsi, perusahaan kerap dipakai sebagai ‘kendaraan’ untuk menutupi transaksi yang sebenarnya berasal dari praktik ilegal. Tidak jarang pula transaksi dibuat seolah-olah sebagai pembayaran proyek atau kerja sama, padahal ujungnya adalah aliran dana untuk pejabat tertentu.

Pemeriksaan terhadap pihak perusahaan menunjukkan bahwa KPK sedang menelusuri pola lengkapnya, bukan hanya pelaku yang memeras, tetapi juga bagaimana uang itu berputar.

Kasus Pemerasan TKA: Delapan Tersangka Pertama dan Modus yang Terungkap

Sebelum menetapkan Hery sebagai tersangka, KPK sudah lebih dulu menjerat delapan orang dalam kasus pemerasan TKA ini. Mereka adalah:

  1. Suhartono – Dirjen Binapenta dan PKK Kemnaker 2020–2023

  2. Haryanto – Direktur PPTKA 2019–2024 dan Dirjen Binapenta 2024–2025

  3. Wisnu Pramono – Direktur PPTKA 2017–2019

  4. Devi Angraeni – Direktur PPTKA 2024–2025

  5. Gatot Widiartono (GTW) – Koordinator Analisis dan PPTKA 2021–2025

  6. Putri Citra Wahyoe (PCW) – Petugas Hotline RPTKA dan verifikator pengesahan RPTKA

  7. Jamal Shodiqin (JMS) – Analis TU/Pengantar Kerja Ahli Pertama

  8. Alfa Eshad (ALF) – Pengantar Kerja Ahli Muda 2018–2025

Delapan pejabat dan pegawai ini diduga melakukan pemerasan terstruktur kepada calon tenaga kerja asing yang mengurus RPTKA (Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing). Jumlah dana yang berhasil mereka kumpulkan mencapai Rp 53,7 miliar.

Angka itu cukup untuk membuat publik terhenyak. Namun yang lebih mengejutkan adalah detail yang muncul belakangan: sebagian dana diduga digunakan untuk makan-makan para pegawai. Jika benar demikian, maka ini bukan hanya tindakan korupsi, tetapi juga bukti betapa banal dan sembarangan penyalahgunaan kekuasaan bisa terjadi.

Hery Sudarmanto: Dari Sekjen ke Tersangka

Meskipun delapan tersangka telah ditetapkan lebih dulu, perkembangan terbaru menyebut bahwa Hery Sudarmanto juga resmi menjadi tersangka setelah penyidik menemukan bukti bahwa ia turut menerima aliran dana.

Tidak hanya itu, KPK bahkan telah menyita sebuah mobil milik Hery. Penyitaan ini biasanya dilakukan ketika aset diduga terkait dengan hasil kejahatan atau dibeli dengan uang yang diperoleh secara tidak sah.

Namun sejauh ini, Hery belum memberikan komentar. Ia belum muncul dalam konferensi pers maupun memberikan klarifikasi kepada media.

Sikap diam ini bisa diartikan banyak hal—bisa sebagai strategi hukum, bisa sebagai cara untuk menunggu proses, atau mungkin sekadar karena belum siap bicara.

Yang jelas, proses hukum terus berjalan.

Penyidikan terhadap Delapan Tersangka Lain Sudah Rampung

Dalam pernyataan resmi, KPK menyebut bahwa penyidikan terhadap delapan tersangka awal telah selesai. Mereka kini tinggal menunggu proses penuntutan dan persidangan.

Langkah ini menunjukkan bahwa penyidikan sudah masuk fase lanjutan, di mana fokus beralih pada:

  • menelusuri aliran dana,

  • menambah pihak yang diduga terlibat,

  • menyita aset,

  • dan memastikan konstruksi perkara semakin kokoh.

Nama Hery yang baru masuk dalam daftar tersangka membuat kasus ini kembali menjadi headline. Ini bukan hanya penangkapan pegawai biasa, tetapi seorang mantan pejabat tinggi Kementerian Ketenagakerjaan.

Dengan jabatan Sekjen—salah satu posisi tertinggi dalam kementerian—masuknya Hery sebagai tersangka memberi gambaran bahwa jaringan kasus ini lebih besar dari dugaan awal.

Mengapa Kasus Pemerasan TKA Menjadi Begitu Penting?

Fenomena pemerasan TKA bukan sekadar persoalan uang. Ini menyentuh dua isu besar:

1. Integritas perizinan tenaga kerja asing

Jika izin TKA bisa diurus lewat pemerasan, maka negara kehilangan kendali terhadap tenaga kerja asing yang masuk.

2. Pencitraan bangsa di mata internasional

Praktik-praktik ini dapat merusak reputasi negara terkait profesionalisme birokrasi.

3. Dampaknya terhadap dunia usaha

Pengusaha yang ingin mempekerjakan tenaga kerja asing bisa terbebani biaya ilegal, yang ujungnya memperlambat investasi.

Kasus ini bukan hanya tentang siapa yang menerima uang. Ini tentang bagaimana sistem disalahgunakan dari dalam.

KPK Bergerak: Penelusuran Aset sebagai Upaya Mengembalikan Kerugian Negara

Penelusuran aset menjadi salah satu langkah paling fundamental dalam kasus korupsi. Tujuannya jelas:

  • menelusuri dari mana asal uang,

  • memahami alur transaksi,

  • menyita aset terkait,

  • dan memastikan negara bisa memulihkan kerugian.

Memeriksa istri, memeriksa petinggi perusahaan, hingga menyita kendaraan adalah bagian dari rangkaian itu.

Ketika KPK berbicara soal penelusuran, itu berarti penyidikan tidak hanya berhenti pada ‘siapa yang menerima uang’, tetapi juga ‘apa yang dilakukan dengan uang tersebut’.

Kesimpulan: Kasus yang Masih Panjang dan Belum Menuju Akhir

Kasus pemerasan calon TKA yang menyeret nama mantan Sekjen Kemnaker Hery Sudarmanto tampaknya baru memasuki tahap penting. Delapan tersangka awal sudah selesai penyidikannya. Hery baru ditetapkan sebagai tersangka. Pemeriksaan saksi baru saja dimulai. Aset mulai disita.

Namun perjalanan menuju persidangan lengkap seluruh tersangka sangat mungkin masih panjang.

Yang pasti, kasus ini membuka mata publik bahwa penyimpangan bisa terjadi bukan hanya pada level pegawai, tetapi hingga ke lapisan pejabat tinggi.

Dan seperti biasa, KPK melangkah dengan rapi—satu pemeriksaan demi satu, satu penyitaan demi satu—hingga gambaran utuhnya terbentuk.

Sementara itu, Hery dan keluarganya masih bungkam. Tidak ada tanggapan, tidak ada pembelaan. Sunyi.
Tapi dalam kasus korupsi, diam bukan akhir. Itu hanya jeda sebelum bab berikutnya dimulai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1766260801251