Soppeng-Faktahukumnusantara.com— Ketidakpastian pola curah hujan sepanjang akhir tahun 2025 berdampak serius terhadap sektor pertanian di Desa Abbanuange kec lilirilau kab Soppeng Petani jagung setempat dilaporkan mengalami gagal panen akibat cuaca ekstrem yang tidak menentu, mulai dari hujan lebat dalam waktu singkat hingga periode kering yang berkepanjangan.
Jagung yang selama ini menjadi salah satu komoditas utama dan sumber penghidupan warga desa tersebut tidak tumbuh optimal. Sebagian tanaman mengalami pembusukan akar akibat genangan air, sementara lainnya mengering karena kekurangan air pada fase pertumbuhan penting.
Aris, salah satu petani jagung di Desa Abbanuange, mengungkapkan bahwa pola cuaca pada akhir tahun ini jauh berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menurut dia, perubahan cuaca yang sulit diprediksi membuat petani kesulitan menentukan waktu tanam dan pola perawatan tanaman.“Di akhir tahun 2025 ini, curah hujan benar-benar tidak menentu. Kadang hujan deras beberapa hari, lalu berhenti lama tanpa hujan sama sekali. Jagung tidak bisa beradaptasi, banyak yang layu dan tidak berbuah maksimal,” kata Aris saat ditemui di lahan pertaniannya, Minggu 28 Desember 2025
Ia menjelaskan, sebagian besar tanaman jagung mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan sejak usia muda. Tongkol tidak berkembang sempurna, bahkan banyak tanaman yang mati sebelum masa panen tiba. Akibatnya, hasil yang diperoleh petani jauh dari target produksi.
Menurut Aris, kerugian yang dialami petani tidak sedikit. Biaya produksi yang telah dikeluarkan—mulai dari pengolahan lahan, pembelian benih, pupuk, pestisida, hingga ongkos tenaga kerja—tidak tertutupi oleh hasil panen yang minim.
“Kami sudah keluar modal cukup besar. Tapi hasilnya hampir tidak ada. Ini jelas sangat memberatkan, apalagi bagi petani kecil yang mengandalkan jagung untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Kondisi gagal panen ini semakin menekan ekonomi petani, terutama menjelang akhir tahun ketika kebutuhan rumah tangga meningkat, termasuk biaya pendidikan anak dan persiapan kebutuhan awal tahun berikutnya. Sejumlah petani bahkan terpaksa menunda kembali musim tanam karena khawatir kerugian serupa terulang.
Para petani berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah maupun instansi terkait. Mereka menginginkan adanya langkah antisipatif dan pendampingan, seperti bantuan benih tahan cuaca ekstrem, akses pupuk yang terjangkau, serta penyuluhan pertanian yang menyesuaikan dengan perubahan iklim.
Selain itu, petani juga berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi jangka panjang, termasuk sistem peringatan dini cuaca dan pengelolaan air yang lebih baik, agar risiko gagal panen dapat diminimalkan di masa mendatang.
Hingga saat ini, petani di Desa Abbanuange masih menunggu kepastian kondisi cuaca membaik sebelum kembali mengolah lahan. Mereka berharap musim tanam berikutnya dapat berjalan lebih baik dan kejadian gagal panen akibat cuaca ekstrem tidak terus berulang.(Red)












