Ketika kabar ini muncul, satu hal langsung terasa: Indonesia baru saja mencatat salah satu kemenangan terbesar dalam perang melawan narkotika internasional. Badan Narkotika Nasional (BNN) berhasil menangkap Dewi Astutik, sosok yang selama bertahun-tahun menghantui banyak negara sebagai gembong narkoba kelas dunia.
Dan momen itu tidak terjadi di Indonesia.
Tidak juga di negara-negara yang rutin melibatkan dirinya dalam penyelidikan.
Melainkan jauh di Sihanoukville, Kamboja, melalui operasi lintas negara yang begitu senyap dan terkoordinasi dengan amat rapi.
Ini bukan penangkapan biasa.
Ini adalah pukulan telak bagi dua jaringan narkotika paling berbahaya di dunia: Golden Triangle dan Golden Crescent.
Mari kita bedah kisahnya, bagian demi bagian—dengan gaya bercerita yang dekat, hidup, dan mudah dicerna.
Operasi Senyap Lintas Negara: BNN, Kepolisian Kamboja, dan Intelijen Indonesia Bergerak
Pada Senin, 1 Desember 2025, BNN akhirnya berhasil meringkus buronan internasional Dewi Astutik alias Mami, seorang pengendali utama jaringan narkotika internasional.
Operasi ini digerakkan oleh:
BNN,
Kepolisian Kamboja,
KBRI Phnom Penh,
Atase Pertahanan RI di Kamboja,
dan BAIS TNI (Badan Intelijen Strategis).
Ini bukan satu institusi bekerja sendirian.
Ini lima institusi bergerak sebagai satu tubuh.
Penangkapan dilakukan di Sihanoukville, di depan sebuah hotel.
Dewi, mengenakan kaus putih dan celana jeans biru—tampil seperti orang biasa—tidak pernah menyangka hari itu ia tidak akan pernah lagi berjalan bebas.
Begitu ia hendak masuk lobi hotel, tim gabungan langsung bergerak.
Tanpa drama, tanpa pekikan, tanpa keributan.
Semuanya selesai dalam hitungan detik.
BNN mengatakan operasi itu dipimpin langsung oleh Roy Hardi Siahaan, Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN.
Ditangkap di Kamboja, Dibawa ke Phnom Penh untuk Identifikasi
Setelah penangkapan, Dewi langsung dibawa ke Phnom Penh untuk:
verifikasi identitas,
proses serah terima antarotoritas,
dan pemeriksaan awal.
Setelah tiba di Indonesia, penyidik BNN akan menggali seluruh informasi:
jalur pendanaan,
aliran logistik,
kontak jaringan internasional,
hingga modus perekrutan kurir.
BNN menegaskan:
“Penindakan ini bukan akhir. Ini pintu masuk untuk membongkar seluruh struktur jaringan besar yang bekerja secara masif dan terorganisasi.”
Dengan kata lain, tertangkapnya Dewi bukan garis finis.
Ini justru start point untuk menyapu habis seluruh jaringan global yang ia kendalikan.
Siapa Dewi Astutik? Gembong Narkoba yang Menggentarkan Asia Timur dan Asia Tenggara

Sebelum ditangkap, nama Dewi Astutik bukan hanya dikenal BNN.
Otoritas Korea Selatan juga memasukkannya ke daftar buronan.
Dia adalah:
Pengendali jaringan Golden Triangle,
Terhubung dengan jaringan Golden Crescent,
Memiliki identitas palsu,
Punya operasi lintas negara yang aktif dan brutal.
Golden Triangle—yang mencakup Laos, Myanmar, dan Thailand—adalah wilayah produksi opium dan heroin terbesar di Asia.
Dia beroperasi di sana.
Sering.
Dan terkoordinasi.
BNN mengungkap bahwa Dewi juga terhubung dengan jaringan Afrika yang bekerja di wilayah Thailand serta Semenanjung Malaya.
Dengan kata lain, ia bukan pemain kecil.
Ia bukan kurir.
Ia bukan perantara.
Dia adalah salah satu mastermind jaringan internasional.
Apa Saja Jejak Kejahatan Dewi Astutik? BNN: “Sudah Lama Kami Monitor”
Kepala BNN, Marthinus, menyatakan bahwa Dewi sudah termonitor berkali-kali.
Ia menyebut bahwa Dewi selalu muncul dalam laporan intelijen internasional.
Pada Mei 2025, ia kembali menjadi sorotan besar setelah BNN menggagalkan penyelundupan 2 ton sabu-sabu dari kapal Sea Dragon Tarawa di perairan Karimun, Kepulauan Riau.
Nilainya?
Rp 5 triliun.
Dan Dewi adalah pengendali utamanya.
Di sisi lain, ia juga menjadi mastermind di berbagai kasus 2024 terkait jaringan Golden Crescent.
BNN menyebut:
“Kita hari ini berhadapan dengan sindikasi besar seluruh dunia, dikendalikan oleh Dewi Astutik.”
110 WNI Direkrut Jadi Kurir oleh Dewi Astutik
Ini bagian yang paling mengejutkan.
Dewi tidak hanya mengedarkan narkoba.
Ia juga membangun sistem yang rapi untuk merekrut 110 WNI menjadi kurir narkotika.
Para kurir itu ditangkap di berbagai negara:
Brasil
India
Kamboja
Korea
Ethiopia (Addis Ababa)
Setiap kali ditanya, jawabannya sama:
“Kami bagian dari jaringan Dewi Astutik.”
Dengan identitas palsu berinisial PA, ia muncul sebagai otak perekrut.
BNN menyebut bahwa dua kurir yang terbang dari Kamboja ke Medan pada akhir 2024—membawa narkoba dalam pesawat—juga hasil rekrutannya.
Ini bukan bisnis kecil yang dikelola secara sembarangan.
Ini sistem internasional.
Identitas Asli Terungkap: Warga Ponorogo, Nama Palsu Dewi Astutik
Di balik sosok gembong narkoba, ada sisi lain yang mungkin tak banyak diketahui publik.
Identitas asli Dewi bukan “Dewi Astutik”.
Itu hanyalah nama yang ia pakai untuk melancarkan operasinya.
Nama asli yang tercantum di KTP adalah PA, warga Dukuh Sumber Agung, Desa/Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo.
Namun ketika tim media menelusuri alamat itu, hasilnya mengejutkan:
Tidak ada nama Dewi Astutik.
Tidak ada catatan warga atas nama itu.
Hanya ada seorang perempuan yang pernah dikenal warga, bernama PA, yang bekerja di luar negeri.
Kepala Dusun Sumber Agung, Gunawan, mengatakan:
“Nama Dewi Astutik tidak ada. Tetapi alamat itu memang warga sini. Fotonya juga kenal.”
Warga lain, Sri Wahyuni, juga berkata:
“Namanya bukan Dewi Astutik, melainkan PA.”
Kapolres Ponorogo AKBP Andin Wisnu Sudibyo menegaskan:
“Identitas yang pertama dipalsukan. Orang situ, tapi kartunya dipalsukan.”
Sudah Lama Jadi Pekerja Migran, Terakhir Bekerja di Kamboja
Hasil identifikasi Polres Ponorogo menunjukkan bahwa PA memang sudah lama menjadi PMI (Pekerja Migran Indonesia).
Ia pernah bekerja di:
Hong Kong
Taiwan
dan terakhir di Kamboja
Dan di sanalah ia berubah dari pekerja migran menjadi pimpinan jaringan narkotika raksasa.
BNN pun telah mengajukan Red Notice melalui Interpol untuk memburu Dewi sebelum akhirnya ia ditangkap.
Kenapa Penangkapan Ini Sangat Penting?
Ada lima alasan besar:
1. Mengungkap jaringan narkotika terbesar di Asia Tenggara
Golden Triangle dan Golden Crescent adalah dua jaringan paling berbahaya di dunia.
2. Memutus aliran logistik dan pendanaan internasional
Setelah Dewi ditangkap, BNN berharap seluruh “kepala cabang” ikut runtuh.
3. Menghentikan perekrutan WNI sebagai kurir narkoba
110 WNI sudah ditangkap di luar negeri—jumlah yang sangat besar.
4. Menekan distribusi narkotika melalui jalur laut dan darat
Jaringan Dewi aktif mengedarkan sabu, kokain, hingga ketamin.
5. Mengembalikan tekanan internasional ke Indonesia secara positif
Indonesia menunjukkan bahwa ia mampu bertindak tegas dalam operasi global.
Kesimpulan: Penangkapan Dewi Astutik Baru Awal—Perang Jaringan Narkoba Masih Panjang
Penangkapan di Kamboja adalah kemenangan besar.
Namun, BNN berulang kali menegaskan bahwa ini baru permulaan.
Ada jaringan Afrika.
Ada jalur Asia Tenggara.
Ada kurir yang tersebar di berbagai negara.
Ada operasi di banyak titik yang belum sepenuhnya terungkap.
Namun satu pintu besar kini sudah terbuka.
Dewi Astutik—yang selama ini menjadi figur bayangan dalam gelapnya perdagangan narkoba internasional—akhirnya tertangkap.
Dan dari sinilah, dunia akan mulai melihat bagaimana Indonesia membongkar jaringan yang telah merusak banyak negara ini.
Satu hal yang pasti:
Perang belum selesai.
Tapi Indonesia baru saja memenangkan salah satu babak terpentingnya.












