POLEWALI MANDAR-Faktahukumnusantara.com – 25 Desember 2025, Buruknya kondisi infrastruktur jalan di wilayah pedesaan kembali berdampak langsung pada keselamatan warga. Seorang ibu hamil di Desa Ratte, Kecamatan Tutar, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, harus ditandu sejauh puluhan kilometer oleh warga untuk mencapai rumah sakit saat hendak melahirkan.
Akses jalan dari Desa Ratte menuju fasilitas kesehatan rujukan tidak dapat dilalui kendaraan. Jalan desa berada dalam kondisi rusak berat, berlumpur, berbatu, dan dipenuhi kubangan, terutama saat musim hujan. Dalam kondisi tersebut, satu-satunya cara membawa pasien adalah dengan tandu darurat, menyusuri jalur setapak hingga ke titik yang masih bisa dijangkau kendaraan bermotor.
Perjalanan yang semestinya dapat ditempuh dalam waktu singkat berubah menjadi berjam-jam. Risiko terhadap keselamatan ibu dan bayi meningkat seiring lamanya perjalanan dan medan yang sulit. Warga menyebut kejadian serupa bukan peristiwa insidental, melainkan kerap berulang setiap kali terjadi kondisi darurat medis.
“Kalau hujan, motor tidak bisa lewat sama sekali. Kalau ada orang sakit atau ibu mau melahirkan, ya harus ditandu,” ujar seorang warga Desa Ratte.
Akses Kesehatan Bergantung pada Gotong Royong
Kondisi jalan yang tidak layak membuat akses layanan kesehatan di Desa Ratte bergantung sepenuhnya pada gotong royong warga. Ibu hamil, lansia, dan pasien sakit dipikul secara bergantian melewati jalur licin dan menanjak, tanpa dukungan sarana transportasi darurat yang memadai.
Situasi ini menempatkan warga dalam posisi rentan. Hak atas layanan kesehatan yang aman dan cepat terhambat oleh keterbatasan infrastruktur dasar, sementara jangkauan fasilitas kesehatan formal tidak mampu menembus wilayah tersebut.
Kerusakan Jalan Berlangsung Bertahun-tahun
Warga menyatakan kerusakan jalan di Desa Ratte telah terjadi bertahun-tahun tanpa perbaikan berarti. Aspirasi dan keluhan disebut telah berulang kali disampaikan kepada pemerintah desa hingga pemerintah daerah. Namun, hingga kini, belum ada pembangunan yang dianggap menjawab kebutuhan dasar masyarakat.
“Kami seperti tidak terlihat. Ini satu-satunya akses, tapi dibiarkan rusak,” kata warga lainnya.
Dampak kerusakan jalan tidak terbatas pada sektor kesehatan. Aktivitas ekonomi warga terganggu akibat sulitnya distribusi hasil pertanian. Anak-anak sekolah pun kerap kesulitan melintas, terutama saat hujan deras.
Menunggu Komitmen Pembangunan
Warga berharap tahun 2026 menjadi titik balik bagi perbaikan infrastruktur di Kecamatan Tutar. Mereka menuntut pemerintah kabupaten dan provinsi menjadikan jalan desa sebagai prioritas kebijakan, bukan sekadar bagian dari janji pembangunan tahunan.
“Kami tidak menuntut jalan besar. Asal bisa dilalui kendaraan, itu sudah cukup,” ujar seorang tokoh masyarakat.
Ketimpangan Infrastruktur Pedesaan
Kasus di Desa Ratte memperlihatkan ketimpangan pembangunan infrastruktur antara wilayah pusat dan daerah terpencil. Di tengah narasi percepatan pembangunan dan peningkatan layanan dasar, masih ada warga yang harus mempertaruhkan keselamatan hanya untuk mengakses layanan kesehatan.
Peristiwa ini menegaskan bahwa pembangunan jalan bukan semata persoalan teknis atau anggaran, melainkan menyangkut pemenuhan hak dasar dan keselamatan warga negara—terutama mereka yang tinggal jauh dari pusat perhatian kebijakan publik.(Tim/Red)












